Jumat, 12 Februari 2010

Sebuah lubang kecil di lambung kapal besar

  Sebuah lubang kecil di lambung kapal besar
diceritakan kembali oleh Isa Alamsyah

Kisah ini terjadi di awal masehi ketika kapal besar masih terbuat dari kayu dan menggunakan ratusan tenaga budak untuk menggerakkannya.
Budak yang sedang bertugas mengayuh dayung duduk di samping bawah kapal dan budak yang sedang giliran istirahat biasanya di tempatkan di lambung kapal bagian bawah.
Sedangkan di kabin atas, dan deck kapal adalah tempat para pejabat, perwira dan tentara.
Karena sanitasi buruk, suatu saat terjadi wabah penyakit di bagian lambung kapal tempat para budak beristirahat. Mereka sangat menderita, lapar dan kehausan.
Bukannya menolong mereka yang menderita, para perwira dan tentara tidak ada yang mau turun ke bawah karena takut tertular, dan mereka yang sakit di lambung kapal tidak boleh naik ke atas karena bisa menularkan.
Para petinggi kapal berpikir, beberapa hari lagi mereka akan sampai tujuan, jadi biarkan saja dahulu yang sakit menunggu.
Setelah beberapa hari kehausan dan kelaparan akhirnya para budak yang terjebak di lambung kapal tidak tahan lagi.
Mereka masing-masing akhirnya nekat membuat lubang dilambung kapal untuk mendapat air.
Awalnya hanya bocor-bocor kecil saja, tetapi lama kelamaan menjadi besar dan akhirnya kapal bocor parah.
Menyadari kapal terancam, akhirnya semua perwira, pejabat bahu membahu mengatasi kebocoran kapal.
Mereka tidak lagi peduli penyakit, mereka tidak lagi peduli strata, status jabatan, mereka juga tidak sempat saling menyalahkan, karena prioritas mereka sekarang sama.
Yaitu bekerja sama agar kapal jangan sampai tenggelam.

Apa hikmah kisah ini?
Kapal ini ibaratnya adalah perjalanan kita sebagai satu bangsa, komunitas, tim kerja atau keluarga.

Kita sebagai satu bangsa sebenarnya sedang berada dalam satu kapal yang sama. Kadang para pejabat dan pemimpin, karena merasa begitu penting dan kuat, lupa suara dan keluhan rakyat di bawahnya.
Ketika rakyat sengsara mereka tidak begitu peduli.
Jika kesengsaraan begitu parah dan merata, lama kelamaan bisa membuat rakyat marah, dan jika seluruh rakyat marah kapal ini bisa tenggelam bersama.

Dalam perusahaan, direktur, manager dan buruh juga dalam kapal yang sama. Ketika hak-hak buruh kecil diabaikan, sehingga membuat mereka demo dan merusak fasilitas perusahaan, maka yang karam adalah semuanya.

Dalam keluarga kita juga satu kapal, jika ada hak anak yang diabaikan, ketika perhatian dan pendidikan diacuhkan, ketika anak-anak melakukan pelanggaran dan hal memalukan, maka seluruh anggota keluarga ikut menanggung malu, menanggung biaya dan menanggung resiko.

Kita sendiri juga adalah sebuah kapal. Kadang kita bekerja lupa istirahat, ketika jatuh sakit maka seluruh aktivitas kita hancur.
Kadang kita terlalu santai tidak bekerja dan tiak berjuang, pada akhirnya masa depan kita bisa hancur.

Berlakukalh adil, proporsional pada semua pihak sehingga tidak perlu ada kebocoran , sehingga kita bisa selamat sampai tujuan.

(Terinspirasi dari sebuah hadist)
Perumpamaan orang yang berpegang dengan hukum-hukum Allah dan yang
melanggarnya itu bagaikan kaum yang sama-sama menaiki kapal, sebagian
ada yang di atas dan sebagian ada yang di bawah, orang-orang yang
berada di bawah apabila ingin mengambil air mereka mesti melalui
orang-orang yang berada di atas, lalu orang-orang yang di bawah itu
berkata, "Seandainya kita lubangi (kapal ini) untuk memenuhi kebutuhan
kita maka kita tidak usah mengganggu orang-orang yang ada di atas
kita!"
Maka jika orang-orang yang di atas itu membiarkan kemauan
mereka yang di bawah, akan tenggelamlah semuanya, dan jika mereka
menahan tangan orang-orang, yang di bawah, maka akan selamat, dari
selamatlah semuanya." (HR. Bukhari)

Isa Alamsyah 04 February at 03:15 dari group Bisa! di Fb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar